Friday, June 3, 2016

Kado Istimewa

Seven - Kado Istimewa oleh : Rizqulloh

Namaku Rizqy Nur Wahid, panggil saja aku Rizqy, umur 20 tahun status single dan seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta. Cerita ini bermula ketika aku berkenalan dengan seorang cewek yang ternyata dulu satu sekolah SMA denganku. Maklum jaman sekolah SMA tidak begitu mengenal banyak orang terutama cewek.

Entah kenapa tak perlu waktu lama untuk kami jadi semakin akrab, mungkin memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Dari yang awalnya hanya chating di media sosial, kemudian bertukar nomor hp, lalu saling sms dan telpon. Kemudian beberapa waktu sebelum ulang tahunku Dia mengirimkan sms bahwa Dia ingin bertemu karena ada barang titipan untukku, Dia bilang dari temenku.

Kring.. kring.. kring.. kring.. bunyi nada sms masuk di hp ku membuyarkan konsentrasi bermain game sehabis pulang kantor.
“Mas, ada waktu luang kapan?” Sms dari Dia.
“Sabtu malam tidak ada acara.” Balasku. Maklum single hahaha...
“Bisa ketemu? Ada barang titipan buat mas yang mau aku kasihkan.” Balasnya lagi.
“Titipan? Dari siapa? Barang apa?” Jawabku mulai curiga.
“Dari temenmu katanya, gak tahu isinya apaan.” Balasnya lagi.
“Temenku? Siapa? Cewek/Cowok?” Tanyaku.
“Iya, cewek. Gak tahu siapa namanya.” Jawabnya bikin makin penasaran.
“Ciri-cirinya kayak gimana?” Aku semakin penasaran.
“Orangnya biasa-biasa saja, pakai kerudung.” Jelasnya.
“Waduh? Siapa tuh?” Jawabku semakin bertambah penasaran.
“Temenmu. Bisa ketemu gak? Amanah ini buat ngasih titipannya. Ntar tak jelasin pas ketemu aja” Jawabnya meminta konfirmasi bisa ketemu atau tidak.
“Yaudahdeh. Mau ketemu dimana?” Balasku meng-iyakan untuk ketemu sekaligus tanya mau ketemu dimana.
“Di alun-alun aja gimana?” Jawabnya.
“Ok, di alun-alun sebelah mana? Jam berapa?” Tanyaku memperjelas rencana pertemuan.
“Alun-alun sebelah barat di warung wedank ronde, ba'da maghrib gimana?” Balasnya.
“Ok deh kalau begitu. Yaudah ya, mau lanjutin kerja dulu.” Jawabku, padahal main game hahaha. 
“Iya, maaf sudah mengganggu.” Balasan terakhir karena tidakku balas lagi.

Oh iya, Dia belum ku perkenalkan. Namanya Wulan Ayu Pratama, panggilannya Wulan. Hari berganti hari sampai akhirnya waktu untuk ketemu dengan Wulan tiba. Ya, sabtu malam ba'da maghrib sesuai rencana kami akan bertemu di alun-alun. Setelah siap-siap aku sms Wulan kalau sudah mau berangkat. Setelah berbelit dengan kemacetan jalanan akhirnya sampailah aku di tempat ketemuan dan ternyata Wulan sudah ada disana menunggu. Setelah kuparkirkan motorku, aku segera menghampirinya yang sudah menunggu di warung wedank ronde.

Suasana malam itu begitu ramai sekali, banyak orang lalu-lalang dan bercanda ria di alun-alun. Setelah ku sapa dia dan dipersilahkan duduk, kami mulai ngobrol basa-basi. Ternyata warung wedank ronde di tersebut milik saudaranya.

“Macet mas?” Tanyanya padaku memulai percakapan.
“Iya, macet banget. Maklumlah, sabtu malam kan saatnya jalan-jalan. Hehe.” Jawabku.
“Mau minum apa mas?” Tanyanya lagi.
“Duh malah ngerepotin.” Jawabku sungkan.
“Udah gak apa-apa. Mau wedank ronde?” Tawarnya.
“Yaudah deh gak apa-apa. Makasih.” Jawabku.

Sekitar satu jam kami ngobrol basa basi entah apa yang diobrolin ada aja pokoknya. Akhirnya Dia menyerahkan barang yang katanya titipan dari temenku. Setelah ku lihat ternyata itu sebuah kado dan katanya gak boleh dibuka langsung, harus dibuka dirumah. Karena Waktu sudah semakin malam akhirnya kami saling berpamitan untuk pulang. Di perjalanan pulang aku terus memikirkan apa isinya dan dari siapa sebenarnya kado itu. Tapi firasatku mengatakan bahwa itu bukan titipan dari temenku melainkan dari Wulan sendiri, tapi karena malu jadi mungkin Dia memakai alasan bahwa itu titipan dari temenku.

Sesampainya dirumah dan masuk kamar, karena saking penasarannya langsung ku buka bungkusan kado tersebut dan ternyata isinya sebuah jam tangan dan secarik kertas berisi ucapan selamat ulang tahun.

“Selamat ulang tahun mas Rizqy! semoga panjang umur, sehat selalu dan tercapai cita-citanya. Wulan..”

Firasatku kalau kado itu memang dari Wulan ternyata benar-benar terbukti. Di tambah lagi sms dari Wulan yang ngasih tau kalau kado itu memang dari Dia. Tapi Dia malu kalau harus mengatakan secara langsung bahwa kado itu sebenarnya dari Dia. Semenjak kejadian itu, hubunganku dengan Wulan semakin dekat dan intens. Hingga munculah perasaan cinta kasih sayang diantara kami berdua. Berbekal keberanian tingkat tinggi, ku beranikan diri untuk menyatakan perasaanku kepada Wulan. Ternyata Dia juga punya perasaan yang sama kepadaku.

Hari itu, hari bersejarah dimana Aku dan Wulan resmi pacaran. Beberapa bulan pacaran dan karena sudah merasa mantap, ditambah restu dari keluarga akhirnya kami memutuskan untuk naik ke jenjang pernikahan. Dan saat ini kami telah di karuniai seorang buah hati yang lucu. Semoga cinta kasih kami langgeng selama-lamanya.

Mohon gunakan bahasa yang sopan dan santun. Terimakasih
EmoticonEmoticon